Sabtu, 04 Januari 2014

TINGGINYA TINGKAT PENGANGGURAN SARJANA DI INDONESIA

Oleh Muhammad Rosyid Hidayat
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Abstrak
Tingginya angka pengangguran sarjana sudah menjadi salah satu penyakit di negara Indonesia yang besar. Data statistik menyatakan jumlah pengangguran sarjana atau lulusan universitas pada Februari 2013 mencapai 360 ribu orang, atau 5,04% dari total pengangguran yang mencapai 7,17 juta orang[1]. Hal ini bisa terjadi dikarenakan sebagian besar lulusan perguruan tinggi hanyalah menjadi pencari kerja (job-seeker) dan jarang yang berkeinginan menjadi pencipta kerja (job-creator). Permasalahan ini berasal dari perguruan tinggi yang hanya lebih terfokus pada bagaimana menyiapkan para mahasiswa yang cepat lulus dengan IPK cumlaude tanpa memberikan kompetensi dan keterampilan untuk mengenal dan memasuki dunia kerja. Umumnya pengangguran sarjana ini memiliki keterampilan yang rendah dan belum siaap mental untuk memasuki dunia kerja. selain karena sumber daya manusia (mahasiswa) yang kurang berkualitas, kurangnya jumlah lapangan pekerjaan padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja, sehingga mendorong tingginya tingkat pengangguran di Indonesia.
Kata kunci : cara mengatasi pengangguran; faktor penyebab pengangguran; pengangguran sarjana.
1.        Pendahuluan
Banyaknya jumlah pengangguran sarjana di Indonesia memang selalu menjadi masalah yang menyelimuti dalam perkembangan negara Indonesia. Masalah yang disebabkan karena lulusan mahasiswa yang hanya ingin menjadi pencari kerja bukan pencipta kerja, belum lagi tuntutan dari perguruan tinggi yang menginginkan mahasiswanya cepat lulus tanpa diberikan keterampilan yang cukup dalam menghadapi dunia kerja serta kurangnya jumlah lapangan pekerjaan padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja. Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 259 juta jiwa semakin menambah rumitnya kompleks permasalahan yang ada di Indonesia[2]. Mulai dari sarjana pendidikan, sarjana hukum, sarjana ekonomi, sarjana komputer dan masih banyak sarjana-sarjana yang lainnya. Sebagian dari sarjana-sarjana tersebut yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi dari sarjana (S1) sampai dengan magister (S2) hanya bisa duduk dan menunggu lowongan pekerjaan tanpa mengamalkan ilmu yang telah didapatnya. Ada tiga faktor dasar yang menjadi permasalahan tingginya tingkat pengangguran sarjana di Indonesia yaitu: (a) ketidaksesuaian hasil yang dicapai antara pendidikan dengan lapangan kerja. (b) ketidakseimbangan permintaan dan penawaran terhadap jasa manusia. (c) kualitas sumber daya manusia itu sendiri.
Tuntutan mutu pendidikan di Indonesia merupakan suatu kebutuhan yang penting karena  kualitas/ mutu  pendidikan di Indonesia yang dinilai oleh banyak kalangan masih rendah. Hal terssebut bisa terlihat dari beberapa indikator diantaranya lulusan dari sekolah atau perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja karena minimnya kompetensi yang dimiliki. Dengan kondisi tersebut sulit mengharapkan mereka menjadi agen perubahan social sebagaimana yang diharapkan masyarakat luas. Rendahnya kualitas pendidikan Indonesia disorot pula  karena deraan jumlah lulusan perguruan tingi yang menganggur .Pengangguran lulusan perguruan tinggi merupakan salah satu dari sekian banyak isu pendidikan dan ketenagakerjaan yang banyak mendapat perhatian.
Menurut Menakertrans, pengangguran adalah orang yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan suatu usaha baru, dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Memang perdebatan pun sengit terjadi banyak pihak yang berkomentar. Dari pihak Perguruan Tinggi ternama pastilah tetap dengan gaya lama, yaitu menyiapkan para mahasiswa untuk lulus dengan cepat,  memberi dan mengembangkan ilmunya dan mudah mengikuti keinginan pengguna untuk dilatih secara praktis. Kesannya bekerja adalah kegiatan amat teknis dan praktis saja. Padahal bekerja ada beberapa level mulai dari sangat teknis (mengetik, mengarsip, dll) hingga level strategis bagaimana membangun pasar, menciptakan image bahwa produk yang dihasilkan adalah sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Konsep keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang dicetuskan mantan Mendiknas Bapak Wardiman perlu dihidupkan lagi. Konsep itu bisa menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi yang dari ke hari makin bertambah[3].
2.        Penganguran Terdidik
Pengangguran Terdidik ataupun pengangguran sarjana adalah seseorang yang telah lulus dari perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Pengangguran terdidik sangatlah berkaitan dengan masalah kependidikan di negara berkembang seperti Indonesia, antara lain masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga kerja dan kurangnya lapangan pekerjaan yang berimbas pada kemapanan sosial dan eksistensi pendidikan dalam masyarakat. Diliat dari masyarakat yang tengah berkembang pendidikan dijadikan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan melalui pemanfaatan kesempatan kerja yang ada. Maksudnya, teraihnya lapangan kerja yang sesuai dengan diharapkan bagi masyarakat pengguna jasa pendidikan.
Sebenarnya gelar sarjana tak otomatis memuluskan jalan meraih pekerjaan. Peningkatan jumlah pengangguran intelektual di Indonesia dinilai akibat dua faktor. Pertama, karena kompetensi mahasiswa yang kurang. Kedua, jumlah lapangan pekerjaan di Indonesia memang tidak terlalu banyak. Menurut Sofyan Efendi, seorang Anggota Dewan Pendidikan Tinggi, "Masyarakat kita itu sebenarnya lebih banyak membutuhkan teknisi daripada akademisi. Akibatnya apa? Sekarang masih banyak sarjana pengangguran, yang dihasilkan dari perguruan tinggi ini adalah yang tidak sesuai dari kebutuhan masyarakat. Masyarakat lebih butuh teknisi, tapi perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan akademisi,". Beliau menganjurkan sudah seharusnya masyarakat mempunyai SDM yang baik, seperti mahasiswa-mahasiswa yang didukung dengan keahlian teknis untuk meningkatkan kualitas SDM sehingga mampu bersaing dengan tenaga kerja lain[4].
3.        Penyebab dan Faktor pengangguran
Sampai saat ini masih ada 360 ribu orang sarjana lulusan universitas yang masih menganggur dan mencari-cari pekerjaan. Pemerintah menyatakan para sarjana harus punya kompetensi dan keterampilan kerja untuk bisa bersaing. "Kesempatan kerja di Indonesia masih terbuka namun sangat kompetitif. Oleh karena itu para sarjana harus melengkapi kemampuannya dengan kompetensi kerja sehingga bisa dengan mudah menentukan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat dan keinginannya," ujar Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar[5]. Jadi penyebab utama pengangguran terdidik sebenarnya adalah berkembangnya lapangan kerja yang tidak sesuai dengan jurusan yang mereka tempuh, sehingga para lulusan yang berasal dari jenjang pendidikan atas baik umum maupun kejuruan dan tinggi tersebut tidak dapat terserap ke dalam lapangan pekerjaan yang ada. Akan tetapi fakta lembaga pendidikan di Indonesia hanya menghasilkan pencari kerja, bukan pencipta kerja. Padahal, untuk menjadi seorang lulusan yang siap kerja, mereka perlu tambahan keterampilan di luar bidang akademik yang mereka kuasai seperti yang dikatakan oleh Muhaimin Iskandar.
Disisi lain para pengangguran tersebut tidak mau bangkit dan membuat inovasi, mereka hanya ingin menjadi pekerja yang formal, di kantoran dan mendapat gaji yang besar. Padahal di Indonesia lapangan kerja di sektor formal mengalami penurunan, hal itu disebabkan lemahnya kinerja sektor riil dan daya saing Indonesia, yang menyebabkan sektor industry menjadi lemah dan membuat produksi manufaktur yang berorientasi ekspor. Melemahnya sektor riil dan daya saing Indonesia secara langsung menyebabkan berkurangnya permintaan untuk tenaga kerja terdidik, yang mengakibatkan  meningkatnya jumlah pengangguran terdidik. Dengan kata lain, persoalan pengangguran terdidik muncul karena adanya informalisasi pasar kerja. Sebenarnya Sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan adalah contoh bidang-bidang yang masih membutuhkan tenaga ahli. Namun para sarjana tak mau bekerja di tempat-tempat seperti itu dan mereka umumnya juga tidak mau memulai karier dari bawah.
Masalah kualitas pendidikan juga mempunyai keterkaitan dengan relevansi pendidikan, relevansi pendidikan atau efisiensi eksternal merupakan suatu sistem pendidikan yang diukur dari keberhasilan system itu dalam memasok tenaga-tenaga terampil dalam jumlah yang memadai bagi kebutuhan sektor-sektor pembangunan. Apabila kita lihat keadaan lulusan pendidikan kita maka tampak gejala yang semakin mengkhawatirkan dengan semakin besarnyapengangguran lulusan sekolah menengah dan pendidikan tinggi. Dan dimungkinkan para lulusan tersebut akan menganggur.[6]
Faktor yang menyebabkan banyaknya pengangguran sarjana di Indonesia sebagai berikut: (a) Ketidaksesuaian antara karakteristik lulusan baru yang memasuki dunia kerja (sisi penawaran tenaga kerja) dengan kesempatan kerja yang tersedia (sisi permintaan tenaga kerja). Ketidaksesuaian ini mungkin bersifat geografis, jenis pekerjaan, orientasi status, atau masalah keahlian khusus. (b) Terbatasnya daya serap tenaga kerja di sektor formal (tenaga kerja terdidik yang jumlahnya cukup besar memberi tekanan yang kuat terhadap kesempatan kerja di sektor formal yang jumlahnya relatif kecil). (c) Belum efisiennya fungsi pasar kerja. Di samping faktor kesulitan memperoleh lapangan kerja, arus informasi tenaga kerja yang tidak sempurna dan tidak lancar menyebabkan banyak angkatan kerja bekerja di luar bidangnya. Kemudian faktor gengsi juga menyebabkan lulusan akademi atau universitas memilih menganggur karena tidak sesuai dengan bidangnya. (d) Budaya malas juga sebagai salah satu factor penyebab tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Selain itu, peningkatan jumlah pengangguran intelektual di Indonesia juga dinilai akibat dua faktor. Pertama, karena kompetensi mahasiswa yang kurang. Kedua, jumlah lapangan pekerjaan di Indonesia memang tidak terlalu banyak. “Sistem pendidikan di Indonesia yang terlalu berorientasi ke bidang akademik juga menjadi masalah,” kata Penasihat Dewan Pendidikan Jawa Timur Daniel Rosyid, memberikan penilaiannya[7]. Menurutnya, kurikulum S1 terlalu menekankan pada pengajaran akademik. Hasil akhirnya membuat mental sarjana hanya mencari kerja. Mereka tidak memikirkan cara untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. “Coba kalau pendidikan vokasi diperbanyak, jumlah pengangguran intelektual tidak bakal sebanyak sekarang,” ujar Daniel. Ia juga menilai, kurikulum pendidikan memang tidak selalu cocok dengan tuntutan dunia kerja. Namun Daniel menuding faktor utama lebih pada banyaknya jurusan sosial yang dibuka di sebuah universitas. Adapun pendirian politeknik maupun institut rasionya dibanding universitas sangat kecil.
Padahal lulusan politeknik maupun institut sangat dibutuhkan kalangan industri. “Masalahnya banyak kampus yang menjual ijazah dengan mudahnya tanpa memperhatikan kualitas lulusan,” kata Daniel.
Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) itu menyarankan, ke depannya pemerintah diharapkan untuk meningkatkan jumlah pendidikan vokasional. Cara itu dinilai Daniel sangat efektif sebab setidaknya bakal melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan khusus sebelum terjun ke dunia kerja. “Kurangi sarjana akademik, dan perbanyak sarjana yang memiliki skill. Ini cara tercepat mengurangi jumlah pengangguran terdidik.”
4.        Cara mengatasi pengangguran terdidik
Membludaknya jumlah pengangguran sarjana di Indonesia memang sudah sepatutnya diatasi agar beban Indonesia untuk bangkit tidak terlalu terbebani dan menuju Negara maju pun dapat terwujud. "Lulusan perguruan tinggi harus mempunyai kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan stakeholder yaitu harus memenuhi kebutuhan profesional (profesional needs), kebutuhan masyarakat (social needs), kebutuhan dunia kerja (industrial needs) dan kebutuhan generasi masa depan (aspek scientific vision)," kata Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja[8]. Kompetensi-kompetensi tersebut yang dimaksud ialah keterampilan yang harus dimiliki oleh para lulusan agar dapat memnuhi kebutuhan masyarakat. Berhubungan dengan itu maka mutu pendidikan perlu ditingkatkan agar kompetensi-kompetensi tersebut dapat dicapai. Hal-hal yang perlu dilakukan ialah menetapkan visi Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif. Insan Indonesia cerdas komprehensif adalah insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis[9].
Cerdas Spiritual, memiliki makna bahwa siswa diharapkan mampu beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul.
Cerdas emosional dan sosial, cerdas emosional memiliki makna bahwa siswa mampu beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiativitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya,serta memiliki kompetensi untuk mengekspresikannya sedangkan cerdas sosial memiliki makna agar siswa memiliki kemampuan beraktualisasi diri melaluiinteraksi sosial dengan cara (a) membina dan memupuk hubungan timbal balik;(b)demokratis;(c)empati dan simpati;menghargai kebhinnekaan dalam bermasyarakat dan bernegara;berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Cerdas Intelektual, memiliki makna bahwa siswa diharapkan mampu beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi insan intelektual yang kritis,kreatif,inovatif,dan imajinatif.
Cerdas Kinestetis, memiliki makna bahwa siswa diharapkan mampu beraktualisasi diri melalui olahraga untuk mewujudkan insan yang sehat,bugar,berdayatahan,sigap,terampil,dan trenginas.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan lima misi yang biasa disebut lima (5) K, yaitu; ketersediaan layanan pendidikan; keterjangkauan layanan pendidikan; kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan; kesetaraan memperoleh layanan pendidikan;kepastian/keterjaminan memperoleh layanan pendidikan.
Dengan Pilar 5K ini akan membangun tembok-tembok kebijakan pendidikan, sehingga sistem pendidikan akan berkembang menjadi sesuatu bangunan yang kokoh dengan arsitektur bangunan yang responship terhadap dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, serta mengembangkan masyarakat yang lebih progresif. Implementasi pilar 5K merupakan wujud dari pelayanan prima serta sebagai bentuk pengabdian pemerintah kepada masyarakat.
Selain meningkatkan mutu pendidikan, cara mengatasi pengangguran sarjana ialah menananamkan jiwa belajar dan membaca kepada para sarjana untuk merubah pola pikir (mindset) mereka terhadap pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan hidup,seperti : (a) Menggiatkan penyuluhan kepada para sarjana atau para intelektual untuk   lebih berorientasi menciptakan pekerjaan ketimbang mencari kerja atau menjadi pegawai negeri. (b) Merubah sistem pendidikan di Indonesia yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas dan siap untuk menduduki suatu pekerjaan sesuai dengan keahlian dan ilmunya. (c) Menanamkan jiwa enterpreneur beserta prakteknya sebelum pelajar atau mahasiswa menamatkan pendidikanya di PT. (d) Menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan memperbanyak lobi-lobi politik ke negara maupun perusahaan asing (e) Memberdayakan para sarjana untuk mengembangkan daerah pedesaan serta memberikan kredit modal usaha dengan bunga ringan agar mereka mampu menciptakansumber usaha produktif
Dari kelima aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa para lulusan diwajibkan mempunyai jiwa wirausaha. Pihak perguruan tinggi yang mempunyai tanggung jawab dalam mendidik dan memberikan kemampuan dalam melihat peluang bisnis serta mengelola bisnis tersebut serta memberikan motivasi untuk mempunyai keberanian menghadapi resiko bisnis. Peranan perguruan tinggi dalam memotivasi para mahasiswanya menjadi young entrepreneurs merupakan bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Menurut  Thomas Zimmerer dalam Kirschheimer, DW,  ada 8 faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan seperti wirausahawan sebagai pahlawan, pendidikan kewirausahawan, faktor ekonomi dan kependudukan, pergeseran ke ekonomi jasa, kemajuan teknologi, gaya hidup bebas, e-comerce dan the world-wide-web serta, peluang internasional [10]:
Wirausahawan Sebagai Pahlawan. Faktor di atas sangat mendorong setiap orang untuk mencoba mempunyai usaha sendiri karena adanya sikap masyarakat bahwa seorang wirausaha dianggap sebagai pahlawan serta sebagai model untuk diikuti. Sehingga status inilah yang mendorong seseorang memulai usaha sendiri.
Pendidikan Kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan sangat populer di banyak akademi dan universitas di Amerika. Banyak mahasiswa semakin takut dengan berkurangnya kesempatan kerja yang tersedia sehingga mendorong untuk belajar kewirausahaan dengan tujuan setelah selesai kuliah dapat membuka usaha sendiri.
Faktor ekonomi dan Kependudukan. Dari segi demografi sebagian besar entrepreneur memulai bisnis antara umur 25 tahun sampai dengan 39 tahun. Hal ini didukung oleh komposisi jumlah penduduk di suatu negara, sebagian besar pada kisaran umur diatas. Lebih lagi, banyak orang menyadari bahwa dalam kewirausahaan tidak ada pembatasan baik dalam hal umur, jenis kelamin, ras, latar belakang ekonomi atau apapun juga dalam mencapai sukses dengan memiliki bisnis sendiri.
Pergeseran ke Ekonomi Jasa. Di Amerika pada tahun 2000 sektor jasa menghasilkan 92% pekerjaan dan 85% GDP negara tersebut. Karena sektor jasa relatif rendah investasi awalnya sehingga untuk menjadi populer di kalangan para wirausaha dan mendorong wirausaha untuk mencoba memulai usaha sendiri di bidang jasa.
Kemajuan Teknologi. Dengan bantuan mesin bisnis modern seperti komputer, laptop, notebook, mesin fax, printer laser, printer color, mesin penjawab telpon, seseorang dapat bekerja dirumah seperti layaknya bisnis besar. Pada zaman dulu, tingginya biaya teknologi membuat bisnis kecil tidak mungkin bersaing dengan bisnis besar yang mampu membeli alat-alat tersebut. Sekarang komputer dan alat komunikasi tersebut harganya berada dalam jangkauan bisnis kecil.
Gaya Hidup Bebas. Kewirausahaan sesuai dengan keinginan gaya hidup orang Amerika yang menyukai kebebasan dan kemandirian yaitu ingin bebas memilih tempat mereka tinggal dan jam kerja yang mereka sukai. Meskipun keamanan keuangan tetap merupakan sasaran penting bagi hampir semua wirausahawan, tetapi banyak prioritas lain seperti lebih banyak waktu untuk keluarga dan teman, lebih banyak waktu senggang dan lebih besar kemampuan mengendalikan stress hubungan dengan kerja. Dalam penelitian yang telah dilakukan bahwa 77% orang dewasa yang diteliti, menetapkan penggunaan lebih banyak waktu dengan keluarga dan teman sebagai prioritas pertama. Menghasilkan uang berada pada urutan kelima dan membelanjakan uang untuk membeli barang berada pada urutan terakhir.
E-Commerce dan The World-Wide-Web. Perdagangan on-line tumbuh cepat sekali, sehingga menciptakan perdagangan banyak kesempatan bagi wirausahawan berbasis internet atau website. Data menunjukkan bahwa 47% bisnis kecil melakukan akses internet sedangkan 35% sudah mempunyai website sendiri. Faktor ini juga mendorong pertumbuhan wirausahawan di beberapa negara.
Peluang Internasional. Dalam mencari pelanggan, bisnis kecil kini tidak lagi dibatasi dalam ruang lingkup Negara sendiri. Pergeseran dalam ekonomi global yang dramatis telah membuka pintu ke peluang bisnis yang luar biasa bagi para wirausahawan yang bersedia menggapai seluruh dunia. Kejadian dunia seperti runtuhnya tembok Berlin, revolusi di negara-negara baltik Uni Soviet dan hilangnya hambatan perdagangan sebagai hasil perjanjian Masyarakat Ekonomi Eropa, telah membuka sebagian besar pasar dunia bagi para wirausahawan. Peluang Internasional akan terus berlanjut dan tumbuh dengan cepat pada abad ke 21.
5.        Kesimpulan
Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya berkewajiban menuntut mahasiswanya untuk dapat lulus cepat dengan IPK cumlaude tetapi jauh lebih dari itu mahasiswa harus dibekali kompetensi dan keterampilan untuk mengenal dan siap memasuki dunia kerja. Perguruan tinggi juga wajib memperkuat soft-skill selain hard-skill yang telah didapatkan, karena soft-skill merupakan hal yang diperlukan untuk sukses diterima dan memasuki dunia kerja untuk dapat bersaing dalam memasuki kerja. Lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kapasitas daya saing, diantaranya keterampilan menghadapi proses rekrutmen dan seleksi kerja. Dengan keterampilan menghadapi proses rekrutmen dan seleksi kerja, individu akan memiliki pemahaman yang jelas tentang dunia kerja. Serta pemahaman untuk menjadi wirausahawan sehingga para lulusan tidak pasif dan hanya menjadi pencari kerja tetapi lebih dari itu menjadi seorang pencipta lapangan pekerjaan yang mampu menampung banyak pekerja.














DAFTAR PUSTAKA

Daniel, W. (n.d.). Retrieved Mei Rabu, 2013, from 360.000 Sarjana di Indonesia Masih Menganggur: http://finance.detik.com/read/2013/05/29/161124/2259348/4/360000-sarjana-di-indonesia-masih-menganggur
Dikpora DIY. (n.d.). Retrieved Februari Kamis, 2013, from RELEVANSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN  DI PERGURUAN TINGGI: http://www.pendidikan-diy.go.id/dinas_v4/index.php?view=v_artikel&id=17
Dwi, M. (n.d.).  Retrieved Desember Senin, 2012, from Sarjana Indonesia Dinilai Masih “Mentah” (Data BPS tahun 2012): http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/12/03/megijz-sarjana-indonesia-dinilai-masih-mentah
Erik, P. (n.d.). Retrieved Desember Senin, 2012, from Banyak Pengangguran Terdidik karena Sarjana Bermental Akademik?: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/12/03/megkng-banyak-pengangguran-terdidik-karena-sarjana-bermental-akademik
Situbondo, E. (n.d.). Retrieved Maret Rabu, 2012, from Upaya Hilangkan Disparatis Kualitas Pendidikan (Ketetapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan): http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/05/upaya-hilangkan-disparatis-kualitas-pendidikan-444579.html
Sukron, I. (n.d.). Retrieved Januari Minggu, 2012, from Konsep Link and Match: Fungsi Pendidikan Sebagai Pemasok Tenaga Kerja Siap Pakai: http://ibnsukron.wordpress.com/2012/01/29/konsep-link-and-match-fungsi-pendidikan-sebagai-pemasok-tenaga-kerja-siap-pakai/
Tanjung, A. (n.d.). Retrieved Mei Selasa, 2013, from Kenapa di Indonesia sarjana banyak yang menganggur?: http://www.merdeka.com/peristiwa/kenapa-di-indonesia-sarjana-banyak-yang-menganggur.html
Tilaar, H. (1999). Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Rosdakarya.





[1],2 Dwi, M. Sarjana Indonesia Dinilai Masih “Mentah” (Data BPS tahun 2012): http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/12/03/megijz-sarjana-indonesia-dinilai-masih-mentah


[3] Sukron, I.  Konsep Link and Match: Fungsi Pendidikan Sebagai Pemasok Tenaga Kerja Siap Pakai: http://ibnsukron.wordpress.com/2012/01/29/konsep-link-and-match-fungsi-pendidikan-sebagai-pemasok-tenaga-kerja-siap-pakai/
[4] Tanjung, A. Kenapa di Indonesia sarjana banyak yang menganggur?: http://www.merdeka.com/peristiwa/kenapa-di-indonesia-sarjana-banyak-yang-menganggur.html
[5] Daniel, W. 360.000 Sarjana di Indonesia Masih Menganggur: http://finance.detik.com/read/2013/05/29/161124/2259348/4/360000-sarjana-di-indonesia-masih-menganggur
[6] Tilaar, H. Manajemen Pendidikan Nasional. Hal 162 (Bandung: Rosdakarya.1999)
[8] Daniel, W. 360.000 Sarjana di Indonesia Masih Menganggur: http://finance.detik.com/read/2013/05/29/161124/2259348/4/360000-sarjana-di-indonesia-masih-menganggur
[9] Situbondo, E. Upaya Hilangkan Disparatis Kualitas Pendidikan (Ketetapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan): http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/05/upaya-hilangkan-disparatis-kualitas-pendidikan-444579.html
[10]  Dikpora DIY. RELEVANSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN  DI PERGURUAN TINGGI: http://www.pendidikan-diy.go.id/dinas_v4/index.php?view=v_artikel&id=17

3 komentar:

  1. makasi ya,,,,,jurnal ini memberikan informasi tambahan pada saya,,,,smoga lulusan sarjana bisa menjadi pencipta lapangan kerja bukan hanya menjadi pencari kerja....

    BalasHapus
  2. ini sangat membantu saya trimakasih

    BalasHapus