Minggu, 29 Desember 2013

PENGENALAN FILSAFAT DI KALANGAN UMUM



Khairul Arifin
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Abstrak
Orang pada umumnya tidak tahu mengenai apa itu filsafat dan apa yang di ajarkan di dalam filsafat itu sendiri. Sehingga dari kekurang tahuan itulah yang menyebabkan banyak orang salah sangka terhadap apa itu filsafat dan apa yang di ajarkan di dalam filsafat. Masalah-masalah yang muncul dikarenakan tidak adanya pengetahuan tentang ilmu cinta dan kebijaksanaan yang biasa disebut filsafat inilah yang menghasilkan berbagai tindak kejahatan di dunia ini. Misal saja seorang yang menjadi ketua suatu perusahaan bukannya mensukseskan perusahaan itu tapi malah mensukseskan dirinya sendiri. Bukankah itu adalah hal yang sudah biasa kita dengar di telinga kita? Maka dari itu peran filsafat disini diharapkan bisa membuat orang lebih bijaksana dan lebih bisa mengambil keputusan yang sifatnya tidak hanya sepihak dengan memikirkan dirinya sendiri. Dengan metode-metode yang secara jelas tertulis disini yaitu metode deduktif dan induktif akan lebih mudah mengungkap kejelasan dari suatu masalah yang timbul itu. Ditambah dengan adanya kesadaran diri dari orang yang telah belajar filsafat maka tidak bisa di pungkiri kalau negara ini akan menjadi negara yang maju dan dikagumi oleh negara lain.
Kata kunci : filsafat; pengetahuan; ilmu
A.    Pendahuluan
Sering kali kita bingung jika ditanya oleh orang lain “apa itu filsafat?” maka mari kita cari tahu apakah sebenarnya filsafat itu. Beberapa di antara kita atau mungkin banyak yang belum tau tentang apa itu filsafat sebenarnya. Filsafat berasal dari bahasa yunani kuno yaitu gabungan dari dua kata philos dan sophia yang mesing-masing memiliki arti tersendiri yaitu philos yang artinya cinta dan sophia yang artinya kebijaksanaan. Arti secara Etimologi ini mempunyai latar belakang yang muncul dari pendirian Socrates, beberapa abad sebelum masehi, Socrates berkata bahwa manusia tidak berhak atas kebijasanaan, karena keterbatasan kemampuan yang dimilikinya terhadap kebijaksanaan manusia hanya berhak untuk mencintainya.
Dari situ sudah bisa sedikit membuka pandangan kita terhadap “apa itu filsafat?”. Filsafat sangat erat hubungannya dengan kehidupan, misal saja ada suatu problem atau masalah yang terjadi di sekitar kita entah itu dari perbedaan pendapat atau beda pemahaman tentang suatu hal. Nah, disinilah peran dari filsafat itu yang tidak lain dan tidak bukan yaitu untuk menjelaskan maslah yang tadinya menjadi hambatan atau perselisihan. Dengan adanya pertanyaan demi pertanyaan yang di ajukan ditambah dengan masukan-masukan dari berbagai pihak dan berbagai kalangan maka tidak mungkin ada masalah yang tidak bisa terselesaikan. Maka dari itu disinilah filsafat memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.
______________________________________
Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung, Alfabeta, 2011) hlm. 3-5
B.     Latar Belakang Pengenalan Filsafat
Seperti judul yang saya angkat “Pengenalan Filsafat di Kalangan Umum” maka saya akan memperjelas apa itu filsafat dan apakah kegunaan dari filsafat dalam keseharian maupun dalam hidup atau bersosialisasi dengan orang lain. Kita rakyat Indonesia yang menganut paham Demokratis seharusnya tau tentang apa itu filsafat dan mempraktekan dalam kehidupan atau keseharian kita. Banyak sekali problem-problem kehidupan yang muncul akibat pengambilan keputusan secara sepihak dengan tidak menggubris pendapat dan masukan dari orang lain, disitulah letak kesalahan terbesar rakyat Indonesia sehingga menyebabkan banyak sekali problematika dalam keseharian kita. Misal saja tentang kasus suap, korupsi, kolusi, nepotisme, dan lain lain. Bisa kita lihat dari awal terjadinya kasus itu, awal mula semua terjadi sesuai aturan.
Setelah ada salah satu atau mungkin beberapa pihak yang mulai berperilaku tidak baik dengan mendahulukan kepentingan individu dan kepentingan kelompok yang di belanya tidak bisa di pungkiri jika mereka akan melakukan hal yang tidak di inginkan yang tentunya merugikan banyak pihak. Tidak haya yang terlibat langsung dalam pertemuan itu namun secara tidak langsung juga sangat berakibat fatal terhadap orang-orang di sekitar kita. Lihat saja di sekeliling kita masih banyak pengangguran, anak-anak jalanan, pengamen, pengemis, peminta-minta, bahkan ada yang rela melukai dirinya sendiri agar orang lain kasihan melihatnya dan memberinya uang walau tak sebanding dengan apa yang dirasakan orang itu.
Dari beberapa dampak buruk yang sedikit demi sedikit tersebar luas menjadi masalah yang besar dan berdampak buruk bagi orang lain. Alangkah baiknya jika itu tidak terjadi. Masalah itu bisa di atasi jika masyarakat Indonesia khususnya bisa merubah tentang pola pikir mereka. Tidak hanya mementingkan diri sendiri namun paling tidak melihat keadaan sekitar, misalnya saja berfikir sebelum melakukan sesuatu dan tidak terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan yang bersifat sepihak menguntungkan diri sendiri dan kelompok tertentu.
Memang tidak mudah merubah kebiasaan yang telah lama berkembang di masyarakat, namun akan lebih baik jika kita bisa merubah beberapa orang dan beberapa orang itu bisa merubah orang di sekitarnya secara terus menerus maka tidak ada yang bisa menjamin Indonesia akan menjadi negara maju dengan tingkat kesejahteraan tingi. Filsafat sangat bermanfaat sekali jika dilihat dari apa yang di ajarkan di dalamnya terlebih lagi seorang ahli filsafat dimanapun tidak ada yang melakukan hal yang bisa dikatakan tidak baik. Filsafat merubah kita menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan lebih bijak dalam melakukan suatu pekerjaan.
C.    Bagaimanakah Kerja Filsafat
Salah satu kesibukan para filosof ialah bertengkar tentang apa itu filsafat, dimana segala macam keyakinan dikemukakan dengan gigih termasuk pendapat bahwa tidak ada filsafat. Saya bertolak dari pengandaian bahwa filsafat de facto dilakukan dalam masyarakat. Bagi saya kenyataan itu memuat petunjuk bahwa pada hakekatnya  filsafat pun membantu masyarakat dalam memecahkan masalah - masalah kehidupan. Kalau tidak, untuk apa masyarakat membiayaiya. (mengingat filosof tidak dapat hidup dari ilmunya) jadi bantuan apa yang dapat diberikan filsafat kepada hidup masyarakat?
Ilmu - ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Berbeda dari binatang, manusia tidak dapat menyerahkan pengemudian kelakuannya pada perangkat instingtualnya, karena perangkat itu tidak spesifik, terbuka dan bagaimanapun juga sangat lemah. Untuk mengatasi masalah – masalahnya manusia membutuhkan orientasi yang sadar, ia harus mengetahui lingkungannya. Ilmu – ilmu mensistemmatisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencahariannya.
Tetapi ilmu – ilmu pengetahuan itu semua, seperti ilmu pasti, fisika, kimia, fisiologi, sosiologi, atau ekonomi secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti bidang itu secara optimal, ilmu – ilmu semakin mengkhususkan metode – metode mereka, dan justru karena itu ilmu – ilmu khusus tidak memiliki sarana teoritis untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan diluar prespektif pendekatan khusus masing – masing.
Justru itulah fungsi filsafat dalam usaha umat manusia untuk memecahkan masalah – masalah yang dihadapinya.
D.    Filsafat Mencari Jawaban
Pada dasarnya disini dijelaskan bahwa filsafat di juruskan terbagi menjadi dua bidang kajian yaitu filsafat yang harus mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai, misal saja ada seseorang yang berpendapat namun pendapat itu dirasa sangat jauh berbeda dari harapan yang mereka inginkan. Disinilah filsafat yang berperan sebagai pemberi kritik-kritik terhadap pendapat yang seperti itu, bukan kritik pedas yang secara langsung tertuju pada orang yang bersangkutan tetapi kritik secara halus dan bisa diterima orang tersebut. Sehingga orang itu mampu merubah cara pandang terhadap suatu hal yang mungkin dirasa salah oleh orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Satu lagi bidang jurusan filsafat yang sangat wajib yaitu filsafat harus ikut mencari jawaban yang benar dari barbagai jawaban yang muncul. Misal saja ada seseorang yang berpendapat namin kurang lengkap jawaban itu, maka ada orang lain yang tentunya juga mengajukan jawaban namun berbeda dari orang yang pertama tadi. Nah, disinilah peran dari filsafat itu sendiri. Sangat wajib hukumnya filsafat itu menemukan jawabanya sendiri walau sering kita ketahui bahawa filsafat itu hanya bertanya dan betanya secara terus menerus. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah maka akan keluar jawaban dari jawaban yang sangat sempurna dan bisa dikatakan jaawaban itulah yang benar.



______________________________________
Franz Magnis – Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta, Kanisius, 1992) hlm. 17-20

E.     Cabang-cabang Filsafat
Menurut Jujun S. Suryasumantri dalam buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer “pokok permasalahan yang dikaji Filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika, mana yang dianggap baik dan mana yang diangggap buruk (etika) dan serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).ketiga cabang utama filsafat ini kemudian bertambah lagi yakni, pertama teori tentang ada : tentang hakekat keberadaan zat, tentang hakekat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuannya dalam metafisika. Kedua, politik : yakni kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahaan yang ideal. Kelima cabang utama ini kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik diantaranya filsafat ilmu. Cabang-cabang filsafat tersebut antara lain mencakup : (1) epistemologi (2) etika (3) estetika (4) metafisika (5) politik (6) filsafat agama (7) filsafat ilmu (8) filsafat pendidikan (9) filsafat hukum (10) filsafat sejarah (11) filsafat matematika.
F.     Filsafat Ilmu
Menurut Jujun S. Suryasumantri dalam buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer “Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial.
Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti : (1) obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? (2) bagaimana  proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendaptkan pengetahuan yang berupa ilmu? (3) untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berkaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?
            Pertanyaan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok pertanyaan yang pertama disebut landasan ontologis; kelompok yang kedua adalah epistemologis; dan kelompok yang ketiga adalah aksiologis. Semua pengetahuan apakah itu ilmu, seni, atau pengetahuan apa saja yang dasarnya memiliki ketiga landasan ini. Yang berbeda adalah materi perwujudannya serta sejauh mana landasan-landasan dari ketiga aspek ini diperkembangkan dan dilaksanakan. Dari semua pengetahuan maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologis, epistemologis dan aksiologisnya telah jauh lebih berkembang dibanding dengan pengetahuan-pengetahuan lain dan dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. Dari pengertian inilah sebenarnya berkembang pengertian ilmu sebagai disiplin yakni pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakaan aturan-aturan mainnya dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhannya. (Jujun S. Suryasumantri, 2007) hlm. 32-35
            Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah : apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi)? Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (aksiologi)? Dengan mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang ada seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfrontasikan dengan agama, bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? (Arthur Conant Doyle, 1859-1930)
Ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan kata lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan ujuan hidup itu sendiri.
G.    Dasar-dasar Pengetahuan
Penalaran. Penalaran adalah salah satu dari berbagai kandungan di dalam filsafat itu sendiri. Kemampuan kita dalam menalar sebuah hal atau memahami dengan cara yang mudah ini bisa menyebabkan manusia mengembangkan segala jenis pengetahuan, baik itu secara mendasar sampai yang termasuk rahasia kekuasaan-kekuasaan nya mereka pribadi. Melihat masa lalu manusia secara turun temurun mempelajari dan mengamalkan ilmu itu sendiri. Dari yang pertamakali sampai ilmu yang kita dapatkan sekarang tidak jauh berbeda, karena ilmu itu hanya mengalami penambahan bukan mengalami perubahan yang berarti merubah bentuk dari ilmu itu sendiri.
Ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa membedakan sisi baik dan sisi buruk kehidupan. Dia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, dia mengetahui mana yang asli dan mana yang palsu, dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, dan dia juga mengetahui mana indah secara kasat mata dan dia juga mengetahui mana yang jelek walaupun itu kasat mata. Disini yang dimaksudkan adalah manusia itu sendiri.
Manusia sangat berperan penting dalam menyelesaikan suatu masalahnya sendiri dengan berbagai cara dan dengan berbagai bantuan dari orang lain pula. Banyak juga manusia yang benar-benar pintar dalam artian memiliki pengetahuan yang lebih dari semuanya dan lebih cerdas dalam berbagai hal, namun hal ini tidak bisa menjamin kalau orang itu akan bahagia hidupnya. Walaupun manusia yang sangat spesial ini bisa melakukan hal apapun yang dia mau, namun jika tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya kan percuma saja. Lebih baik menjadi manusia normal yang dikelilingi oleh manusia-manusia lain disekitarnya dan melakukan suatu hal dengan semuanya. (Jujun S. Suryasumantri, 2007) hlm. 38-40
Manusia disini paling dituntut paling tidak untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Orang bodoh sekalipun pasti akan bisa melakukan hal itu tanpa harus berfikir panjang. Maka jika manusia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, kenapa masih juga ada dan banyak sekali manusia yang melakukannya lagi. Misalnya sudah tau kalau mencuri itu adalah hal yang sangat tidak baik, kenapa masih juga banyak orang yang mencuri. Jika ditanya mereka akan menjawb dengan berbagai alasan yang intinya hanya satum yaitu malas berusaha dan bekerja keras. Mereka lebih suka kalau mendapatkan suatu hal itu dengan cara yang instan, tanpa ada usahanya dan tanpa ada jeri payah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Sama saja manusia ini seperti yang saya sebutkan di atas. Sudah di beri kesempurnaan berupa kesehatan, anggota tubuh yang lengkap, bisa berfikir layaknya manusia normal, dan yang terpenting mereka tau kalau hal yang dilakukan itu salah, namun yang terjadi malah seperti itu.
Manusia memang makhluk paling sempurna di mata tuhan, namun manusia itu sendiri yang merusak ungkapan yang sangat istimewa itu dengan hal-hal konyol yang telah di lakukannya terhadap sesama manusia bahkan dengan makhluk-makhluk lain mungkin juga akan seperti itu. Jika hal itu dinalar ya memang agak sulit di pahami cara berfikir mereka yang lebih memilih mengambil resiko untuk berbuat kejahatan demi mendapatkan barang yang dimana barang itu sendiri jika didapatkannya maka akan sangat merugikan orang lain, orang yang memiliki barang tersebut.
Namun tidak semua manusia seperti itu, itu hanyalah sebagian kecil dari manusia-manusia baik yang ada di muka bumi ini. Manusia yang baik pasti tau mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan. Tentunya manusia yang baik jika sudah tau mana yang tidak pantas untuk dilakukan maka dia tidak akan melakukannya, karena disinilah peran dari penalaran itu sendiri. (Jujun S. Suryasumantri, 2007) hlm. 42-45
Logika. Beda kata beda pula arti yang terkandung di dalam unkapan itu. Logika adalah perkembangan dari penalaran, memang sangat berbeda namun disini ada keterkaitan yang sangat erat hubungannya. Penalaran adalah proses dari cara berfikir manusia yang dimana dari penalaran itu sendiri akan menghasilkan apa yang sering kita sebut dengan nama pengetahuan. Supaya pengetahuan yang dihasilkan disini bisa dinyatakan benar atau tidak salah maka haruslah ada suatu penarikan kesimpulan dari apa yang sudah di nalar tadi.
Nah cara untuk bisa mendapatkan kesimpulan inilah yang disebut dengan logika, maka antara penalaran dengan logika itu memang sangat erat hubungannya dalam keseharian kita. Dalam penarikan kesimpulan ini ada banyak juga cara-cara untuk mendapatkan kesimpulan yang benar dan tepat dalam artian bisa di jadikan acuan untuk kedepannya. Dalam penarikan kesimpulan ini sendiri juga memiliki dua jenis, yaitu penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan penarikan kesimpulan dengan cara logika deduktif.
Penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif ini sangat erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari berbagai kasus-kasus individual secara nyata dan dengan hasil akhir menjadi kesimpulan yang bersifat umum secara menyeluruh. Sedangkan penarikan kesimpulan dengan cara logika deduktif adalah kebalikan dari logika induktif, yaitu dengan menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi sebuah kasus yang bersifat khusus atau individual.
Induksi adalah cara berfikir dimana adanya penarikan kesimpulan yang bersifat umum dari banyaknya kasus yang ada  dengan kasus itu bersifat individual atau khusus. Dengan logika ini penalaran yang digunakan juga berbeda, disini penalaran yang dimaksud adalah penalaran yang memiliki cakupan yang sangat terbatas dan khusus hanya terpusat pada hal itu saja dalam menyusun argumentasi yang di akhiri dengan pernyataan yang bersifat umum secara menyeluruh. Misalnya perumpamaan dari logika dengan cara ini adalah pohon mangga membutuhkan air, pohon jati membutuhkan air, rumput membutuhkan air, dapat di ambil kesimpulan dengan sifat umum dan secara menyeluruh bahwa semua tanaman membutuhkan air. (Jujun S. Suryasumantri, 2007) hlm 46-49
Dari penarikan kesimpulan tadi dapat diambil dua manfaat, manfaat yang pertama adalah kesimpulan tadi bersifat ekonomis dan memungkinkan untuk proses selanjutnya dengan cara induktif dan deduktif.
Ekonomis disini memiliki arti bahwa pengetahuan itu tidak semuanya membutuhkan biaya yang mahal, misalnya saja seperti yang saya contohkan tadi tentang tanaman yang membutuhkan air. Kita tidak harus membayar untuh mendapatkan informasi itu, cukup dengan melihat saja maka kita sudah dapat menarik kesimpulan ini. Didukung dengan negara kita yang kaya akan berbagai budaya, flora dan fauna, beragam keunikan dari tiap tiap daerah yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal inilah yang mungkin tidak dimiliki negara asing.
Sebenarnya mereka sangat iri dengan kita, namum mereka pandai mengubah kata iri tersebut menjadi kata yang memiliki arti kebalikan. Contoh yang sangat simpel adalah negara kita sangat bergantung terhadap kemajuan teknologi dari negara lain. Kenapa kita tidak membuatnya sendiri, kita juga memiliki bahan dasar yang lengkap namun hanya kurang tenaga profesinal saja.
Tenaga disini bukan tidak mungkin kalau negri kita bisa memilikinya, namun kurang minatnya rakyat Indonesia untuk memahami itulah yang menjadi kendala utama dalam hal ini. Memang tidak bisa di pungkiri kalau orang luar memiliki kemauan yang sangat keras untuk mempelajari suatu hal baru dan hal ini pasti ada manfaatnya untuk mereke di waktu yang akan datang.
Manfaat kedua yang bisa kita ambil dari sini adalah penalaran untuk selanjutnya bisa menggunakan metode yang lain, baik itu induktif maupun deduktif. Karena disini jika pernyataan itu bersifat induktif maka akan bisa lebih di induktifkan lagi, maksudnya adalah pernyataan secara umum akam bisa menjadi lebih umum lagi dan tentunya lebih tepat.
penalaran deduktif adalah penalaran yang berlawanan dari penalaran induktif, yaitu penalaran yang secara umum menjadi secara khusus dan individu.
Deduksi adalah cara berfikir manusia seolah-olah manusia itu bisa mendapatkan kesimpulan yang pasti, berfikir dari manakah kesimpulan itu dan dari manakah hasil yang dicapai tersebut. Penarikan kesimpulan menggunakan cara ini biasanya menggunakan cara berfikir yang dinamakan silogisme. Silogisme itu sendiri adalah cara berfikir yang berasal dari dua buah pernyataan yang disusun secara bersamaan dan ada keterkaitan diantaranya.
Sumber Pengetahuan Filsafat. Jika mencari kebenaran memang sulit untuk mendapatkannya, namun proses untuk mendapatkan kebenaran itulah yang sangat enak untuk dibahas. Sama halnya dengan filsafat yang terus mencari kebenaran suatu masalah dengan menggunakan berbagai cara agar kebenaran itu tidak hanya sekedar omongan belaka, kebenaran yang dimaksudkan disini adalah kebenaran mutlak yang di ambil dari berbagai sumber pengetahuan baik agama, ilmu, dan pendapat seseorang.
Pada sumber pengetahuan ini masih erat hubungannya dengan penalaran dan logika. Memang di filsafat semua hal itu memang ada hubungan dan keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kita lihat saja suatu masalah yang muncul akan diselesaikan secara runtut melalui penalaran setelah itu bisa di nalarkan maka gantian logika yang bertugas disini.
Logika bertugas untuk mengambil kesimpulan dari berbagai penalaran yang telah dikemukakan oleh beberapa orang dan di rumuskan dengan dua cara tadi baik deduktif maupun induktif disini tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Kini masalah itu akan dapat terselesaikan dengan adanya pembuktian dari sumber pengetahuan yang memang sudah di tentukan dan sudah di akui kebenaran dari sumber-sumber itu. Masalah yang muncul akan diselesaikan dahulu dengan premis-premis yang ada dengan metode silogisme dan peran penting dari kedua logika tadi, yaitu logika induktif dan logika deduktif. (Jujun S. Suryasumantri, 2007) hlm. 50-54

H.    Kesimpulan
Dalam filsafat suatu masalah di selesaikan dengan tiga cara, yaitu epistemologi, ontologi dan aksiologi. Dengan demikian ilmu-ilmu tadi tidak bisa secara sekaligus membahas pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut tentang kehidupan manusia secara menyeluruh, namun dengan banyaknya bidang kajian ilmu dengan berpagai pengertian, pendalaman, dan pelaksanaan ilmu tersebut mungkin bisa menangani masalah yang sedang terjadi di sekitar kita. Filsafat telah menjawab “bagaimanakah kerja filsafat?” dengan gabungan dari berbagai bidang kajian yang ditambah dengan kajian secara kritis disini akan menjadikan masalah-masalah itu cepat terpecahkan.
I.       Daftar Pustaka
Arthur Conant Doyle. (1859-1930). Elementary : My Dear Watson.
Magnis, Franz & Suseno. (1992). Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius.
Sadulloh, Uyoh. (2011). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suriasumantri, Jujun S. (2007). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar